Sabtu, 28 Mei 2016

Menolong itu harus maksimal!

Ia adalah perempuan yang NEKAT!
Nekat bukan sembarang nekat, nekat yang ini adalah nekat dalam menolong orang lain.
Ia baru saja menjamin akan membayarkan biaya penggantian rantai motor milik seorang laki-laki paruh baya yang putus. Padahal, ia sendiri pun sedang tidak memegang uang sepeser pun. Ia lalu mendatangiku dan meminjam uangku.

"Nolong itu harus maksimal. Nggak boleh setengah-setengah! Kasihan Bapak itu. Anak dan Istrinya pasti sedang menunggunya di rumah." Demikian katanya.

Jumat, 27 Mei 2016

Kamu lupa bahwa kamu punya Tuhan

Hari ini aku benar-benar merasa sendiri, tak punya siapa-siapa untuk menolongku. Mendadak, masa depan jadi terlihat suram dalam benakku. Lalu aku mengadu kepada sahabatku dan menceritakan kekhawatiranku tentang ini dan itu. Ia hanya berkata; "Ah, kamu ini lupa ya kalau kamu punya Tuhan? Kamu lupa bahwa kamu punya senjata; Doa dan kamu juga lupa kalau kamu masih punya harapan."

Kamis, 26 Mei 2016

Tidak sarapan pagi

Aku heran dengan kebiasaan pagi temanku di kampus. Ia tidak pernah sekalipun sarapan. Aku penasaran, bagaimana mungkin memulai pagi tanpa makanan? Tapi ia punya jawaban pamungkas yang membuatku terperanga; "Makanan yang tadi malam aja belum tercerna dengan baik, masa harus makan lagi sih? Kasihan mesin di perut kita."

Rabu, 25 Mei 2016

Berbakti untuk yang terdekat

Aku menawarkan program pertukaran pemuda kepada sahabatku. Kali ini temanya tentang budaya bahari di Indonesia. Sementara dia tak punya basic sama sekali dalam kebaharian, sebab ia adalah mahasiswa Biologi. Pun aku. Aku adalah mahasiswa Ekonomi, tapi aku mau mengikuti kegiatan ini. Berbeda dengannya yang enggan.

"Aku ingin mengurusi hal terdekat terlebih dulu, El. Ilmuku ini pun belum terpakai, masa mau memburu ilmu lagi sih? Serius? Aku juga ingin mengurusi rumahku dulu; Desaku tercinta. Nanti barulah aku terbang ke luar sana."

Selasa, 24 Mei 2016

Jika melihatku, sapalah aku

Hari ini aku bertemu dengan teman lamaku. Sebenarnya, sehari sebelumnya, aku melihatnya dari kejauhan. Tapi, karena ragu apakah itu benar dirinya atau bukan, akhirnya aku tak menegurnya. Hari ini aku berkata kepadanya; "Kemarin aku ragu mau menyapamu, takut salah orang hehee." Lalu ia berkata dan perkataannya ini menyentuhku; "Lain kali, kalau melihatku, sapalah aku! Jangan ragu. Toh, kalau pun ternyata salah orang, kamu kan bisa meminta maaf padanya."

Senin, 23 Mei 2016

Menolong dengan pertolongan terbaik

Aku salut dengannya, seseorang yang baru ku kenal dan ternyata sangat bermurah hati. Hari ini aku bermotor beriringan dengannya, tak sengaja bertemu dengannya di satu tempat. Di tengah jalan, ia menyapa seorang laki-laki paruh baya yang sedang mendorong motornya. Lalu ia menawari bantuan untuk membantu bapak itu menemukan bengkel. Tapi, bapak itu berkata; "Ke Bengkel pun saya nggak bisa bayar, Dek. Uang saya hanya Rp 20.000." Temanku ia seketika berkata; "Nggak apa-apa, Pak, pakai uang saya saja."

Sesampainya di bengkel, temanku itu mendekatiku; "El, aku pinjam uang Rp 135.000 dulu ya. Biaya bengkelnya segitu sedangkan aku nggak bawa uang sama sekali." Dengan senang hati ku berikan uang itu padanya. Yang membuatku tidak habir fikir, bagaimana ia bisa menjamin bapak itu sedangkan ia sendiripun tak memegang uang sama sekali. Baginya, menolong itu harus yang terbaik. Ya Allah... kebaikan baginya. amiin.

Minggu, 22 Mei 2016

Suami-istri itu seumpama pakaian

Sahabatku sedang menasehati temannya lewat telvon...
"Suami itu adalah pakaian bagi istri dan istri pun adalah pakaian bagi suami. Kalau kamu seperti tadi, memarahi suamimu di tempat umum, bukan hanya suamimu yang malu, kamu pun sebenarnya sedang mencoreng arang di wajahmu sendiri. Kalau kamu mampu, tahanlah marahmu dan ungkapkanlah ketika nanti sampai di rumah. Maaf kalau aku terkesan menggurui."