Sabtu, 24 Desember 2016

Jika becermin, lihatlah sosok diri kita sendiri

Ustad Alm. Uje dalam video lawasnya pernah menyampaikan nasehat bahwa jika kita ingin mengukur diri, maka becerminlah kepada diri kita sendiri. Jangan bandingkan dengan orang lain. Sebab, jika kita becermin, kita tidak mungkin melihat sosok orang lain di dalam cermin tersebut. Kalau kita sampai melihat orang lain, itu bukan becermin, tapi ngintip! Demikian katanya dengan renyah.

Jumat, 23 Desember 2016

Mukhlisihinnalahuddin

Usai sholat subuh, aku diajak suami untuk merenungkan satu ayat; Al-An'am; 159, tentang orang-orang yang mencerai-beraikan agama menjadi golongan-golongan. Suamiku adalah orang yang ketika ditanya; "Kamu aliran islam apa?" Ia akan menjawab; "Saya adalah pengikut Sunnahnya Rosulullah SAW," tanpa menyebutkan nama satu golongan tertentu. Ia sangat tidak suka dengan orang yang mengagungkan golongannya, apalagi kalau sampai menganggap golongan lain salah. Padahal, landasan perasaan yang harus ada di dalam hati kita masing-masing adalah; Mukhlisinna lahuddiin (Memurnikan semurni-murninya ibadah hanya kepadaNya).
-   Ketika seorang petani bersungguh-sungguh menggarap sawahnya, berarti ia telah Mukhlisinna lahuddiin
-   Ketika seorang istri bersungguh-sungguh mencintai suaminya, berarti ia telah Mukhlisinna lahuddiin
-   Ketika seorang guru bersungguh-sungguh mendidik muridnya, berarti ia telah Mukhlisinna lahuddiin
Sebab Ikhlas = Totalitas.
Dan Ikhlas = Laa illaha illallahu

Kamis, 22 Desember 2016

Kembali ku bertanya, 'sudah ikhlaskah aku?'

Hari ini, aku kembali ingin menyucikan jiwa (Tazkiyatuunafs). Kembali ingin ku bertanya kepada diri ini, "Sudah ikhlaskah aku?" dalam mendirikan sholat 5 waktu, dalam membaca Al-Quran, dalam membaca doa pagi dan petang, atau hanya karena sudah terlanjur menjadi rutinitas saja? Aku hanya takut jika 1 hari berlalu sementara aku tidak mendapatkan ridhoNya. Rugi sekali rasanya..

Rabu, 21 Desember 2016

Hanya Dia yang boleh berdiri sendiri

Tadi malam aku curhat kepada seorang teman atas kebingunganku menentukan sikap. Kadang, apa yang berlaku di lingkungan sekitar, tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ku anut selama ini. Dan egoisnya aku, ketika itu tidak sesuai denganku, maka aku tidak akan bisa merasa nyaman dengan keadaan tersebut. Tapi kemudian temanku itu menasehatiku, bahwa jika nilai yang ku anut itu memang sesuai dengan tuntunan sang maha guru (nabi Muhammad saw), maka tidak masalah. Tapi jika itu hanya nilai yang dianut sendiri, maka sudah seharusnya aku mencari landasan.
"Kita tidak bisa dan tidak boleh berdiri sendiri, El. Harus punya landasan atau sandaran berfikir, berperasaan dan bertindak. Hanya Dia yang boleh berdiri sendiri, kita tidak!"

Selasa, 20 Desember 2016

Tidak ada yang benar-benar memahami kita

Ketika sangat dekar/akrab dengan seseorang, biasanya kita akan merasa bahwa dia adalah sosok yang snagat memahami diri kita. Tapi kemudian ketika sekali saja kita merasa terabaikan, maka biasanya kita akan merevisi penilaian kita tadi; Ternyata, di dunia ini tidak ada yang benar-benar memahami kita. Yap! Itu betul sekali! Sekalipun itu adalah saudara kembar kita sendiri, orang tua kita sendiri atau bahkan suami kita sendiri. Rumus; Mencintailah sekedarnya saja, membencilah sekedarnya saja, agaknya memang cocok sekali untuk kita gunakan sepanjang masa. Sebab, bahkan diri kita pun kadang masih gagal faham terhadap diri sendiri, bukan?

Senin, 19 Desember 2016

Bersanding lagi di syurga

Seorang istri tak bosan-bosannya mengingatkan suaminya untuk teguh mendirikan sholat sunnah rawatib. Katanya...
"Mas, aku pernah baca, katanya sholat sunnah rawatib itu pahalanya seperti membangun istana di syurga."
Suaminya masih diam saja.
"Mas, aku ingin kedudukan kita sama di syurga nanti. Sebab aku ingin bersanding lagi di syurga denganmu, Mas. Yuk sama-sama kita bangun istana kita!"

Jumat, 16 Desember 2016

Kenapa kita harus membeda dalam 1 agama?

Seseorang sangat geram setiap kali mendengar golongan tertentu mengintimidasi golongan lain, misalnya dengnn merasa bahwa golongannya yang paling benar, mengkafirkan golongan lain ataupun berkeras hati. Ia sangat geram dengan sikap antipati seperti itu. Karena menurutnya, kita tidak berhak merasa paling benar atau menganggap orang lain salah. Itu hanya hakNya! Ia justru lebih memilih gaya hidup yang fleksibel dan mampu membaur dengan siapa saja dengan tetap mengikuti Al-Quran dan Sunnah. Sesederhana itu.