Sabtu, 14 Mei 2016

Kalla saya'lamuun

Tersebab pernah kecewa kepada seseorang, aku jadi memiliki target untuk bisa lebih dulu menikah daripada dia. Dan niat ini ku nyatakan kepada sahabat terbaikku. Namun, ia berkomentar lembut seperti ini...

"Kalla saya'lamuun. Summa kalla saya' lamuun. Janganlah sekali-kali kamu begitu. Dan janganlah sekali-kali kamu begitu. Sekalipun hanya sekali, itu tidak boleh, El. Kan kamu niatnya menikah untuk ibadah, masa jadi ajang ngebut-ngebutan sih?"

Jumat, 13 Mei 2016

Biar Allah yang jaga

Seorang ibu kos meminta semua anak kosnya untuk membawa pulang kendaraan mereka. Sebab, ibu kos akan pulang kampung cukup lama dan menyangsikan jika ada motor yang ditinggal di kosan. Maling sedang sangat gigih mencari mangsa belakangan ini. Tapi, seorang anak kos tidak punya pilihan lain selain meninggalkannya di kos. Ia memasukkan motornya ke dalam kamarnya kemudian menutupinya dengan selimut.

"Motornya nggak dibawa pulang, Ris? Ibuk sanksi loh," kata ibuk tersebut.
"Biar Allah yang jaga Buk. Tenang saja..hehe," jawabnya dengan lembut, penuh keyakinan.

Kamis, 12 Mei 2016

The Sweetest part of my parent

Pagi ini, ketika mataku terbuka dari nyenyaknya tidur malam tadi, tiba-tiba ada sebuah pemikiran yang menyergap perhatian. Selama ini, aku tidak pernah menyaksikan atau mendengar papa memperlakukan mami dengan kasar, seperti memukul atau 'nyaris' memukulnya. Aku tersenyum sendiri jadinya.

"Ma, Papa nggak pernah kan sekalipun memperlakukan Mama dengan kasar? Memukul atau nyaris memukul gitu," tanyaku. Sangat tertarik untuk mencari tahu.
Mami menggeleng. Sambil tersenyum.
"Ini adalah bagian ter-so sweet dari Mama dan Papa menurutku. Setelah usia pernikahan yang udah lebih seperempat abad ini. How sweet you two. Langgeng hingga tua ya Ma, Pa.."

Rabu, 11 Mei 2016

Inovasi Perasaan

Aku uring-uringan. Pesan yang ku kirimkan padanya ini sudah susah payah berperang dengan egoku sendiri. Aku bukan tipe orang yang mudah memulai terlebih dulu. GENGSI! Tapi, demi memastikan sesuatu, aku rela memulainya. Lalu, apa balasannya? Ia hanya membalas pesanku seadanya. Singkat sekali. Aku uring-uringan. Lalu sahabatku menasehatiku dengan rumus segarnya...
"Bukan hanya bisnis yang butuh diinovasi, perasaan kita juga. Kalau biasanya kamu nggak suka dengan perlakuan A dari seseorang, kali ini cobalah mengikuti alur perlakuan A tersebut. Cobalah mengalah dulu, barulah nanti kalau ada kesempatan lagi, ulanglah pertanyaanmu. Kalau tidak, ya sudah, itung-itung kamu sedang melatih kesabaran. Ingat, tidak semua yang kita mau itu harus kita dapatkan! Ada ego orang lain yang menghalangi. Dan ego kita sendiri tentunya."

Selasa, 10 Mei 2016

Bertubuh preman, berhati Nabi

Seorang laki-laki bertubuh gemuk, botak dan berwajah seperti preman sedang menyantap makanannya dengan lahap. Aku memperhatikannya dari parkiran motor. Namun, sesaat kemudian keseraman fisik itu runtuh seketika manakala ia mengelus kucing sambil memberinya tulang dari piringnya. Aku takjub padanya. Barangkali, fisikku tak menakutkan seperti dirinya, tapi kasih sayangku belum tentu mampu menandinginya..

Senin, 09 Mei 2016

Supaya didoakan oleh warga Maya

Aku punya sahabat yang unik. Ia sering kali mempost di medsos tentang apa yang diharapkannya. Belakangan ini, postingannya selalu bertema tentang Penantian Jodoh. Aku hanya bertanya di dalam hati; "Apa dia tidak malu mempost hal seperti itu?" Aku hanya merasa, akan ada yang mencibirnya nun jauh di sana atau terlebih lagi menganggapnya terlalu 'ngebet' pengen nikah. Dan ketika ku tanyakan kepadanya; "Kamu kok bisa pede banget sih nge-share status kayak gitu?"

Dia menjawab dengan tenang; "Supaya banyak yang mendoakanku."
Aku menangkisnya; "Kalau ada yang mencibir atau mendoakan keburukan gimana?"
Dia menjawab lagi, semakin tenang; "Itu sih urusan dia sama Allah, hehe. Aku mana kuasa?"

Minggu, 08 Mei 2016

Doanya justru untuk orang lain

Aku melihatnya berdoa begitu khusyuk. Bahkan setelah semua orang selesai sholat dan sedang bersalam-salaman, ia tetap saja tenang dalam tunduk kepala, pejam mata dan tengadah tangannya. Apa yang sedang didoakannya? 

"Kamu pasti sedang banyak permintaan ya kepada Allah?" tanyaku setelah ia selesai berdoa.
"Iya..kamu benar!" jawabnya, singkat.
"Kamu minta apa? Jodoh? Rezeki? Atau skripsimu supaya dilancarkan?" kejarku.
"Sungguh, aku justru sangat sedikit berdoa untuk diriku sendiri. Dalam doaku, aku lebih banyak mendoakan orang lain, seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat dan seluruh saudara seiman di mana pun mereka berada."