Sabtu, 21 Mei 2016

Hanya menurut kita, belum tentu menurutNya

Rasanya sangat wajar jika kita gagal dalam satu urusan kemudian kita akan menyesali usaha yang dirasa kurang maksimal sehingga menyebabkan kegagalan tadi. Biasanya kita akan bergumam; "Andai saja aku begini, tentu tidak akan seperti ini kejadiannya." Kurang lebih seperti itu. Tapi, ternyata temanku yang satu ini berbeda. Ia marah ketika aku bergumam tentang "Jika ini, maka itu."

Ia berkata; "Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir kita sampai kita melewatinya. Dan apa yang sudah berlalu dari hidup kita, itulah TAKDIR kita. Boleh menyesal, tapi jangan sampai 'sok tahu' tentang takdir Tuhan dengan mengatakan 'Jika ini, maka itu'. Itu kan baru menurut kita, belum tentu menurut Tuhan. ya kan?"

Jumat, 20 Mei 2016

Sesuai ruang penerimaan yang tersedia

Aku baru saja selesai curhat dengan sahabatku tentang seseorang yang tadinya sangat ku yakini adalah yang TERBAIK untukku, tapi nyatanya ia membuatku KECEWA. Rasa kecewa yang ku alami kali ini terasa sangat sulit dinetralkan. Barangkali, karena aku sudah sangat berharap kepadanya. Sahabatku itu hanya menasehatiku 1 hal dan nasehat ini tak akan pernah bisa ku lupakan sampai kapanpun; "Jangan berharap lebih besar dari RUANG PENERIMAAN yang tersedia di hatimu."

Kamis, 19 Mei 2016

Dibingungkan oleh pertanyaan sendiri

Aku butuh pendapat seseorang yang ku yakini bisa membantuku menentukan keputusan. Lalu mulailah aku bercerita tentang pilihan-pilihan yang ada, berikut dengan pertanyaan-pertanyaan di hati yang membuatku bingung untuk memutuskan. Di ujung curhat, ia hanya berkomentar; "Ternyata, kita sering dibuat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan kita sendiri ya?"

Komentarnya itu justru mestimulusku untuk menentukan keputusan dengan sendirinya. Ajaib! Jarang sekali ada orang seperti dirinya; Sedikit berbicara, tapi berat bobotnya.

Rabu, 18 Mei 2016

Sosok yang melihat tak sekedar melihat

Hari ini aku berkunjung ke Istana Siak bersama teman-temanku. Di antara mereka, ada seorang teman yang unik. Ketika aku dan yang lainnya sibuk berfoto-foto, ia justru masih merenung di spot yang tadi. Kami begitu cepat berpindah-pindah tempat, melihat yang satu lalu beralih ke yang lain. Tapi dia tidak. Cukup lama ia berpindah tempat, seolah sedang mencoba memahami apa yang sedang dilihatnya. 'Melihat tak sekedar Melihat', barangkali semboyan itulah yang cocok untuknya.

Ketika ku tanya; "Apa yang sedang kamu fikirkan?" Ia menjawab; "Aku berusaha memahami." Aku mengernyitkan dahi. Bingung dengan temanku yang satu ini. Lalu ketika kami hampir pulang, ia memanggilku untuk ikut memandang figura usang di depannya. "Lihatlah! Ini adalah angkatan perang kita, tapi mereka tak ber-sepatu. Padahal mereka akan berperang. Lalu lihatlah kita saat ini! Kita bersepatu atau minimal bersandal. Tapi, dalam hal menghargai kemerdekaan, kita belum ada apa-apanya dibanding mereka. Ah, malu sekali rasanya!" gumamnya. Aku tertegun. Malu.

Selasa, 17 Mei 2016

Menuruti Chanel TV Pilihan Anak

Malam ini aku bertamu ke rumah tetangga. Rupanya mereka sekeluarga sedang menonton TV di ruang keluarga. Sambil menyambung tali silaturahmi, aku terus memperhatikan interaksi mereka. Dan aku dibuat takjub pada sebuah sikap, ketika si bungsu tiba-tiba mengganti chanel TV yang sebelumnya adalah film kesukaan sang ayah. Marahkah sang ayah kepada si bungsu? Ternyata tidak. Ia hanya bergumam; "Yah, beginilah kalau remotnya dikuasai si kecil," gumam ayahnya sambil mengelus kepala si bungsu dan tersenyum.

Pemandangan romantis macama apa ini?

Senin, 16 Mei 2016

Mendoakan diri sendiri dengan mendoakan orang lain

Temanku yang sudah sangat ingin menikah mencoba merawat harapannya dengan cara merawat doanya. Bukan doa untuk dirinya sendiri, ia justru mendoakan orang lain. Sebab, ia percaya bahwa ia pun akan didoakan hal yang sama, bukan oleh manusia, tapi langsung oleh Malaikat-malaikatNya.

"Aku selalu memelihara doa ini; 'Ya Allah, bantulah saudara-saudaraku yang sudang ingin menikah, tapi belum bertemu dengan jodohnya. Dan yang sudah bertemu dengan jodohnya, tapi belum mampu menikahinya. Anugerahkan kepada mereka jodoh yang sholeh/a dan bantu mereka untuk bersegera memampukan/memantaskan diri dalam menjemput pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah." Demikian doanya..