Senin, 07 November 2016

Tidak ingin dipoligami

Dalam sebuah majelis khitbah...
"Saya pernah membaca buku Fiqih Sunnah yang didalamnya dituliskan bahwa seorang wanita boleh mengajukan syarat kepada laki-laki yang datang meminangnya. Jika syarat tersebut diterima, maka proses ini bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya dan jika syarat tersebut tertolak maka proses ini tidak bisa dilanjutkan."
Semua orang terdiam. Menerka-nerka, kira-kira apa yang akan diminta oleh perempuan tersebut. Setelah dipersilahkan, perempuan itu melanjutkan kata-katanya lagi...
"Saya tidak ingin dipoligami dengan alasan apapun!"
Keluarga besar pihak laki-laki terdiam. Lalu sang jubir mempersilahkan sang laki-laki untuk menjawabnya secara langsung...
"Bismillah. Saya menerima syarat yang diajukan oleh saudari."
Semua orang yang hadir dalam majelis khitbah tersebut serentak berucap lafal kelegaan... "Alhamdulillah...."

Minggu, 06 November 2016

Jangan sungkan mengingatkan orang lain

Mobil Inova berwarna abu-abu itu melaju dengan kecepatan sedang. Mobil itu berisi 5 orang penumpang yang berangkat dari Kota Pekanbaru menuju kabupaten Siak. Seorang laki-laki dengan perawakan yang agak kurus baru saja masuk ke dalam mobil. Barangkali ia adalah penumpang terakhir sore ini. Tak lama kemudian, aku mencium bau rokok dari arah belakang. Langsung saja ku peringatkan ia...
"Bang? Ngerokok ya? Ini kan mobil AC Bang. Pengap donk nanti penumpang lainnyaaa."
Ia lalu meminta maaf dan segera mematikan rokoknya. Masa sih kita harus mengalah atas racun yang disebarkan oleh 1 orang tersebut?

Sabtu, 05 November 2016

Bentuk cinta dari waktu ke waktu

Dulu, sebelum kita dewasa, orang tua kita sangat protective kepada kita. Setelah dewasa, kita justru didorong untuk mampu mandiri bahkan merantau ke tanah seberang untuk mencari ilmu atau rezeki. Dan ketika kita telah menikah, bentuk cinta itu pun berubah. Banyak orang yang memilih tinggal dirumah baru atau kontrakan daripada tetap tinggal bersama oarng tua. Sang orang tua pun tentu faham dengan keputusan tersebut. Ia rela melepaskan anak dan pasangannya itu hidup rukun dan berkecukupan. Sedangkan mereka berdua ingin mandiri dan ingin membuktikan bahwa mereka mampu. Demikianlah bentuk cinta dari waktu ke waktu. Demikianlah magicnya cinta...

Jumat, 04 November 2016

Prestasi itu bisa berasal dari kondisi

Istri : (Melihat suaminya mengerjakan projek kantor di rumah). "Wahhh, luar biasa sekali suamiku ini. Aku bangga padamu, Mas. Pekerjaan ini cukup rumit, tapi kamu mampu menyelesaikannya dengan baik."
Suami : "Makasih yaaa sayaang."
Istri : "Hemmm... sebulan sudah kita menikah, tapi rasanya aku belum punya pencapaian yang membuatmu bangga Mas."
Suami : "Husss...siapa bilang?"
Istri : "Memangnya apa yang sudah ku raih, Mas? Rasanya tidak ada."
Suami : "Mas paling suka dengan sikapmu yang membuat semua orang di rumah ini tertawa karena menertawakan kekonyolanmu dan kamu pun ikut tertawa karena kekonyolanmu sendiri. Itu mas sukaaa banget. Unik! Lalu, Mas juga bangga padamu atas kejutan-kejutan kecil yang kemarin kamu rancang untuk Mas. Kok kefikiran kayak gitu sih? Jujur, Mas bener-bener merasa ganteeeng! hehe."
Istri : "Makasih ya Maaaas. Mas menyadarkanku bahwa kebanggaan itu bisa berasal dari mana saja. Termasuk dari sebuah kondisi."

Kamis, 03 November 2016

Berbuat baik kepada kedua orang tua

Sekalipun orang tua menyuruh kita untuk melakukan kemungkaran, kita tetap diwajibkan untuk menghormati dan menyayangi keduanya setelah kita menolak ajakan itu dengan cara yang baik. Sebab, walaubagaimanapun, mereka berdua telah merawat dan membesarkan kita dengan sebaik-baiknya. Apapun alasannya, berbakti kepada kedua orang tua itu hukumnya WAJIB!

Rabu, 02 November 2016

Jika dinasehari, diamlah, dengarkanlah!

Ada banyak cara orang merespon nasehat yang diterimanya. Kadang, seorang anak sekalipun, bisa saja tidak menerima apa yang dinasehatkan oleh kedua orang tuanya. Namun, yang terbaik dari sikap seorang anak ketika dinasehati adalah Diam dan Dengarkan! Ini bukan hanya tentang cocok atau tidaknya nasehat tersebut, berguna atau tidaknya nasehat tersebut, atau baik atau buruknya nasehat tersebut, tapi lebih kepada bagaimana akhlak kita sebagai anak kepada kedua orang tua.

Selasa, 01 November 2016

Perempuan itu hidup di atas sabarnya

Banyak sekali ku jumpai perempuan yang begitu sabar dalam menjalani hidup. Sebut saja bu Ani. Kehidupan ekonomi sudah cukup membuat dahinya semakin berkerut sebab memikirkan hari esok bagaimana ia dan keluarganya tetap bisa melanjutkan hidup. Sementara suaminya sibuk berjudi dan atau menuntut ilmu ghaib. Tentu saja yang dilakukan suaminya itu sama sekali tidak menolong kehidupan sama sekali. Tapi apakah bu Ani marah dan meminta ditalak? TIDAK! Selagi masih ada kesabaran di dalam hatinya, ia akan terus beralasan untuk bertahan. Demi anak-anak. Demi kedamaian. Demi syurga yang lama dirindukannya.

"Perempuan itu hidup di atas sabarnya. Sabarnya adalah kehidupannya.." demikian kata bu Ani.