Kamis, 07 April 2016

Agar kita didoakan Malaikat

Aku memulai sebuah chat privat dengan seorang kakak senior yang sudah 2 tahun menikah. Kali ini aku minta dinasehati tentang tips mempercepat datangnya jodoh. Awalnya, ia menceritakan tentang ikhtiarnya bertaaruf dengan seseorang hingga pada akhirnya ia memberitahuku tentang ibadah 'istimewa' yang selalu diamalkannya...

Yang pertama, Kakak mendoakan semua orang yang sudah mampu menikah tapi belum bertemu dengan jodohnya dan semua orang yang sudah bertemu dengan jodohnya tapi belum mampu menikah. Yaa.. kakak percaya aja sama Allah dek, bahwa ketika kita mendoakan saudara kita, maka para malaikat akan mendoakan hal yang serupa dengan kita. *Ini malaikat loh dek yang mendoakan kita, bukan lagi manusia. Seru kan? hehe

Yang kedua, Kakak selalu mendirikan sholat Dhuha. Sebab kakak percaya bahwa sholat Dhuha dapat memperlancar rezeki kita. Bukankah jodoh juga adalah bagian dari rezeki?

Rabu, 06 April 2016

Cara Menjawab Lamaran dari seseorang

Aku berguru pada seseorang yang rajin membaca buku tentang bagaimana caranya menjawab lamaran dari seseorang. Ia bahkan belum menikah. Tapi berkat pemahamannya yang dalam dan pengetahuannya yang luas, aku percaya untuk bertanya kepadanya...

"Ada 3 urutan dalam menjawabnya...
1. Pendahuluan
Berisi ungkapan terimakasih kepada orang yang melamar tersebut karena itu adalah penghormatan kemuliaan bagi diri kita yang dilamar.
2. Isi
Mulailah memberikan penjelasan tentang kecenderungan kita menolak atau menerima lamaran tersebut disertai alasan dengan bahasa yang santun.
3. Penutup
Sekali lagi, akhirilah dengan ungkapan terimakasih kepadanya. Jika kita menerimanya, maka akhirilah dengan sebuah doa untuk kemudahan proses selanjutnya. Sedangkan jika kita menolaknya, maka akhirilah dengan doa untuk kemudahan bertemu jodoh yang baik untuk dirinya."

Selasa, 05 April 2016

Menghargai Jamuan Tuan Rumah

Hari ini aku baru sadar kenapa Mizu selalu bersegera menyantap jamuan yang disodorkan kepadanya ketika ia bertamu. Sekalipun saat itu ia sudah kenyang, ia tetap mengambil makanan/minuman itu sekalipun hanya sedikit untuk mencicipinya. Sedangkan aku? Sekalipun disajikan makanan, jika aku sudah kenyang atau sedang tidak berselera, biasanya sajian itu tidak akan ku sentuh. Kadang aku berfikir, sopankah apa yang ku lakukan ini? Mizu pun tidak pernah menegurku hingga hari ini aku yang bertanya kepadanya. “Apakah memakan hidangan yang disajikan ketika kita bertamu itu hukumnya wajib?”

Ia menjawab dengan sangat sederhana; “Ilmuku masih kurang. Aku tidak tahu persis apakah itu wajib atau tidak dalam agama. Tapi yang jelas, tuan rumah itu menyajikan makanan untuk memuliakan tamunya. Jadi, kalau kita menyantapnya, itu membuatnya lega sebab hajatnya telah sampai. Jika tidak, barangkali ia tidak akan marah, tapi boleh jadi ia kecewa. Ini hanya pendapatku saja. Maaf jika kurang tepat.”

Senin, 04 April 2016

Yang tidak menyayang, tidak akan disayang

Aku pernah bertanya kepada seorang sahabat; “Kenapa ya aku merasa nggak punya teman setia? Ketika aku butuh sesuatu, aku tak pernah yakin untuk meminta tolong kepada salah seorang yang ku kenali. Belum tentu mereka mau menyempatkan diri menolongku. Aku tidak sepertimu yang banyak teman. Semua orang terlihat begitu menyayangimu.”

Sahabatku itu hanya menjawab; “Barangsiapa yang tidak MENYAYANG, tidak akan DISAYANG.”

Minggu, 03 April 2016

Sosok Kharismatik dalam obrolan santai

Aku sedang mendengarkan kekaguman seseorang terhadap dosennya, pak Haris.
“Aku kagum dengan sosok pak Haris. Siapapun yang duduk semeja/seforum dengan beliau pasti akan merasa sangat dihargai dan diperhatikan. Dengan gaya kocaknya, beliau mampu menarik-ulur pembicaraan sehingga menjadi hangat dan renyah. Yang lebih mengagumkan adalah, pak Haris tidak pernah bermain HP di dalam forum, kecuali jika ada panggilan darurat. Orang yang diajaknya bicara pun sampai tak sempat memegang HPnya. Demikian juga, ia tidak membiarkan sedetik pun terlewatkan dengan obrolan yang masih bisa nanti saja dibicarakan. Aku selalu kagum dengan sosoknya yang kharismatik itu.”

Sabtu, 02 April 2016

Diam-diam menolong

Sebut saja namanya Tini. Kehadirannya bak malaikat bagi orang-orang disekitarnya. Adalah Suli yang selalu bercerita tentang perjuangannya melamar pekerjaan tapi tak ada satupun yang menerimanya. Padahal, sudah lebih dari 30 lamaran yang ia upayakan sejak ia wisuda. Setiap kali mendengarkan curhatan Suli, Tini merasa terpanggil jiwanya. Akhirnya, diam-diam ia mengkopi berkas lamaran kerja milik Suli dan mengajukannya ke beberapa tempat. Hingga akhirnya Suli bisa bekerja sesuai dengan passionnya dan sadarlah ia bahwa sahabatnya itu yang telah menolongnya.

“Makasih ya atas semuanya,’ kata Suli.
Tini menjawab; “Tak perlu berterimakasih. Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan kok!.” Betapa rendah hatinya sosok Tini.

Jumat, 01 April 2016

Sekarung Beras Terbaik

Ini adalah cerita antara E dan K. E berkunjung ke kosan K untuk melepaskan rindu setelah 2 bulan tidak bertemu karena liburan semester. Di sela-sela cerita, K bercerita bahwa keadaan ekonomi keluarganya sedang sulit. Ia bahkan tak diberi uang jajan untuk bulan ini. Akhirnya E berinisiatif memberikan sekarung beras yang baru dibawanya dari kampung. Awalnya K menolak karena K khawatir E justru tidak memiliki beras lagi untuk dimasaknya. Tapi, apa yang dikatakan E? “Aku punya 2 karung beras dan yang 1 ini untukmu. Ambillah!” Akhirnya K menerimanya.

Padahal tahukah anda bagaimana keadaan sesungguhnya? Sekarung beras yang dimiliki oleh E itu adalah beras lama yang sudah banyak kutu berasnya. Tapi demi sahabatnya itu, ia rela memberikan yang terbaik dari yang dimilikinya saat itu. Sebab ia ingin mencintai sahabatnya itu seperti ia mencintai dirinya sendiri.