Belakangan ini, Mala sangat doyan meminta NASEHAT kepada setiap orang yang ditemuinya. Ia seperti sedang haus nasehat. Jika orang tersebut tidak ada ide untuk mensehatinya apa, Mala akan meminta doa dari orang tersebut. Hari ini, ia bertemu dengan teman lamanya, laki-laki. Seperti biasa, ia meminta dinasehati. Laki-laki itu berkata; "Jadilah WANITA yang sesungguhnya; menenangkan dan menyenangkan. Jangan sampai kamu menjadi wanita yang BERBAHAYA; yang tidak pandai bersyukur, yang banyak menuntut, yang banyak berdusta."
Kamis, 31 Maret 2016
Rabu, 30 Maret 2016
Bersalah kepada Manusia
Hari ini aku dinasehati oleh salah seorang sahabat yang tahu bahwa aku sedang berusaha hijrah. Untuk tahap awal, ia tidak menasehatiku tentang apapun selain 1 hal; "Hati-hatilah berurusan dengan MANUSIA." Tentu saja aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku kira, ia akan menasehatiku tentang sholat atau hijab, tapi ini tidak.
"Ketika kita berbuat DOSA, kita bisa meminta ampun kepada Allah dimana pun dan kapan pun. Tapi, jika kita berbuat SALAH kepada manusia? Bahkan setelah kita meminta maafpun belum tentu ia memaafkan. Sedangkan Allah tidak akan mengampuni kesalahan tersebut sebelum kita menuntaskan urusan kita dengan orang yang bersangkutan. Sungguh, berbuah salah kepada manusia itu adalah serumit dan sesulit-sulitnya urusan! Berhati-hatilah kawan!"
"Ketika kita berbuat DOSA, kita bisa meminta ampun kepada Allah dimana pun dan kapan pun. Tapi, jika kita berbuat SALAH kepada manusia? Bahkan setelah kita meminta maafpun belum tentu ia memaafkan. Sedangkan Allah tidak akan mengampuni kesalahan tersebut sebelum kita menuntaskan urusan kita dengan orang yang bersangkutan. Sungguh, berbuah salah kepada manusia itu adalah serumit dan sesulit-sulitnya urusan! Berhati-hatilah kawan!"
Selasa, 29 Maret 2016
Malu berdoa sebelum berupaya
Sudah lebih dari 3 bulan hujan tak kunjung turun di negeri ini. Jerebu masih menyelimuti. Padahal, hanya hujanlah yang mampu menyudahi jerebu ini. Aku mengajak dosenku untuk turut sholat Istisqo berjamaah di masjid kampus. Tapi, apa kata beliau?
"Saya MALU! Saya belum melakukan apa-apa untuk negeri ini. Saya malu terlalu banyak meminta padaNya."
Aku terheran padanya. Bukankah Allah justru akan semakin suka jika kita MEMINTA kepadaNya? Tak peduli sudah maksimal atau belum usaha kita. Bahkan, sekalipun usaha kita belum dimulai sama sekali.
"Saya MALU! Saya belum melakukan apa-apa untuk negeri ini. Saya malu terlalu banyak meminta padaNya."
Aku terheran padanya. Bukankah Allah justru akan semakin suka jika kita MEMINTA kepadaNya? Tak peduli sudah maksimal atau belum usaha kita. Bahkan, sekalipun usaha kita belum dimulai sama sekali.
Senin, 28 Maret 2016
Syurga itu adalah ambisi manusia
Hari ini aku mendadak jadi sangat khawatir tentang SURGA dan NERAKA. Ntah kenapa aku jadi perhitungan dengan semua ibadah yang sudah ku lakukan selama ini. Aku tahu, kebaikanku masih sangat sedikit. Aku sekedar ingin menimbang-nimbang, kira-kira cukupkan semua kebaikanku itu sebagai tiket masuk syurga?
Sahabat baikku akhirnya angkat bicara; "Upayamu untuk taat kepada Allah itu jauh lebih utama daripada SYURGA." Tentu saja aku heran padanya. Tak mengerti ucapannya.
"SYURGA itu adalah ambisi manusia. Sedangkan TAAT itu adalah permintaan Allah. Kamu pilih fokur pada yang mana?" lanjutnya lagi. Aku benar-benar tercengang dibuatnya. Berfikir, tersadar kemudian.
Sahabat baikku akhirnya angkat bicara; "Upayamu untuk taat kepada Allah itu jauh lebih utama daripada SYURGA." Tentu saja aku heran padanya. Tak mengerti ucapannya.
"SYURGA itu adalah ambisi manusia. Sedangkan TAAT itu adalah permintaan Allah. Kamu pilih fokur pada yang mana?" lanjutnya lagi. Aku benar-benar tercengang dibuatnya. Berfikir, tersadar kemudian.
Minggu, 27 Maret 2016
Tak sabar untuk menikah
Sebulan yang lalu, aku masih ingat bagaimana dirinya. Ia adalah orang yang paling enggan membahas pernikahan dan paling enggan mendengar orang membahas pernikahan. "Ih, kok terkesan ngebet banget gitu sih?" katanya. Tapi, hari ini ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Ia tiba-tiba menemuiku dan mengaku siap jika ada seseorang yang ingin mengkhitbahnya dalam waktu dekat. Aku heran. Tak habis fikir dibuatnya. Tahukah kamu apa jawabannya?
"Aku iri. Pada mereka yang sudah MENYEMPURNAKAN separuh ibadahnya. Separuh itu tidak sedikit loh! Selama kita belum menikah, sebaik apapun ibadah yang kita lakukan itu ternyata terhitung separuh saja. Maka, bagaimana aku tak ingin bersegera menikah?"
Aku sadar bahwa ternyata kita tidak pernah benar-benar tahu dengan cara apa hati kita tersentuh. Temanku itu sudah tahu sejak lama bahwa menikah itu menyempurnakan separuh agama. Tapi, hari ini nasehat itu benar-benar masuk ke dalam hatinya dan mengubah pemikirannya. Luar biasa!
"Aku iri. Pada mereka yang sudah MENYEMPURNAKAN separuh ibadahnya. Separuh itu tidak sedikit loh! Selama kita belum menikah, sebaik apapun ibadah yang kita lakukan itu ternyata terhitung separuh saja. Maka, bagaimana aku tak ingin bersegera menikah?"
Aku sadar bahwa ternyata kita tidak pernah benar-benar tahu dengan cara apa hati kita tersentuh. Temanku itu sudah tahu sejak lama bahwa menikah itu menyempurnakan separuh agama. Tapi, hari ini nasehat itu benar-benar masuk ke dalam hatinya dan mengubah pemikirannya. Luar biasa!
Sabtu, 26 Maret 2016
Kita tidak pernah benar-benar mengalami
Aku akui, hari ini aku kelewatan. Menyalahkan seseorang karena kesalahannya dimasa lalu. Aku seolah sedang menyeretnya kembali ke masa lalu supaya ia menyesali perbuatannya. Mulanya, aku mengira aku sedang berada pada sebaik-baik niat, tapi belakangan aku sadar bahwa ternyata aku berada pada seburuk-buruk tabiat.
"Bisa jadi kita masih mengungkit kesalahan orang lain, padahal orang tersebut sudah memperbaiki dirinya. Kamu tidak akan pernah benar-benar faham seperti apa upayaku menjaga diri, karena kamu tidak pernah mengalami ujianNya terhadapku," tandasnya.
"Bisa jadi kita masih mengungkit kesalahan orang lain, padahal orang tersebut sudah memperbaiki dirinya. Kamu tidak akan pernah benar-benar faham seperti apa upayaku menjaga diri, karena kamu tidak pernah mengalami ujianNya terhadapku," tandasnya.
Jumat, 25 Maret 2016
Andai semua perasaan berbalas
Sepasang suami-istri yang merupakan pengantin baru, bercerita tentang masa lalu masing-masing. Setelah bercerita kian kemari tentang berbagai RASA yang tak pernah sempurna sebelum mereka dipertemukan. Sang suami terheran, kenapa hampir semua perasaan yang dipersembahkannya tidak berbalas? Sedangkan sang istri terheran, kenapa ia dulu hanya bisa menunggu dan tak berani mengungkapkan perasaannya terlebih dulu?
Lalu mereka saling bersykur dan mensyukuri.
Suami: "Andai setiap perasaan yang ku berikan selalu dibalas oleh perempuan-perempuan itu, tentu aku akan TERLAMBAT sampai kepadamu."
Istri : "Andai setiap perasaan yang ku rasakan selalu ku ungkapkan kepada laki-laki itu, tentu aku akan TERLAMBAT menyambut kedatanganmu."
Suami-Istri: "Ternyata, inilah KITA yang ditakdirkan oleh Allah untuk bersama."
Lalu mereka saling bersykur dan mensyukuri.
Suami: "Andai setiap perasaan yang ku berikan selalu dibalas oleh perempuan-perempuan itu, tentu aku akan TERLAMBAT sampai kepadamu."
Istri : "Andai setiap perasaan yang ku rasakan selalu ku ungkapkan kepada laki-laki itu, tentu aku akan TERLAMBAT menyambut kedatanganmu."
Suami-Istri: "Ternyata, inilah KITA yang ditakdirkan oleh Allah untuk bersama."
Langganan:
Postingan (Atom)
