Ada pasangan yang dulu menikahnya hanya dalam pertemuan sekejap. Ada juga pasangan yang dulu menikahnya tersebab sudah cukup mengenalnya. Ada juga pasangan yang dulu menikahnya diawali dengan perkenalan seadanya lalu tiba-tiba cenderung dan memutuskan untuk menikah. Dari 3 jenis proses tersebut, manakah yang lebih baik? Jawabannya; Semuanya baik! Selama dijalani tanpa melanggar apa yang seharusnya tak dilanggar. Pertemuan, siapakah yang mengatur? Kecenderungan, siapakah yang menganugerahkannya? Kemantapaan hati, siapakah yang memberi? Dia. Maka, tak ada yang salah dengan takdir pertemuan.
Jumat, 30 September 2016
Kamis, 29 September 2016
Kita pun pernah salah
Seseorang yang dulunya sangat pendendam dan sukar sekali memaafkan, kini telah berubah menjadi sosok yang berjiwa besar dan sangat pemaaf. Ketika ku tanya, bagaimana ceritanya sehingga ia bisa sedemikian berubah saat ini? Ia menjawab sederhana: "Aku pernah melakukan kesalahan besar dan aku dimaafkan. Maka sejak saat itu, aku bertekad untuk menjadi pemaaf."
Rabu, 28 September 2016
Aku meminta mahar Ar-Rahman
Setahuku, yang namanya mahar itu ya seperangkat alat sholat atau mas atau uang tunai. Tapi hari ini mindsetku berubah sebab seorang wanita yang luar biasa yang tak lain adalah sahabatku sendiri, bercerita kepadaku bahwa ia hanya meminta mahar hafalan surat Ar-rahman dari calon suaminya. Aku lalu berfikir, mahar apakah yang kelak ingin ku minta ya? Surat Al-Waqiah barangkali?
Selasa, 27 September 2016
Sesak nafas sebab menyimpan benci
Hari ini aku mendapat cerita hikmah dari seorang teman yang mengaku dulunya ia adalah orang yang sering memendam kebencian kepada orang lain. Sulit sekali memaafkan, katanya. Hingga mamanya sering kali mendapatinya sering menarik nafas panjang. Mamanya menasehatinya untuk belajar memaafkan kesalahan orang lain atau apapun yang tidak disukainya terhadap orang lain. Sejak saat itu, hidupnya berubah! Ia lebih bahagia dan tidak pernah lagi menarik nafas panjang semacam sesak seperti itu.
Senin, 26 September 2016
Minggu, 25 September 2016
Menikah untuk BAHAGIA
"Tolong jelaskan kepadaku kenapa kita harus menikah? Tolong buat aku faham, tapi jangan lagi membawa hadist atau ayat-ayat Al-Quran. Aku ingin kamu menjelaskannya dengan kombinasi menarik antara nalar dan perasaan. Sip?" pintaku.
Ia mengawali penjelasannya dengan kalimat yang sangat kontekstual...
"...Yang tadinya kita hanya 1 kampung, setelah menikah kita akan memiliki 3 kampung; Kampung kita, kampung pasangan kita dan kampung tempat kita merantau bersama. Menikah itu bukan hanya menyatukan 2 insan yang berbeda jenis kelamin, tetapi menyatuan 2 keluarga, 2 suku, 2 kampung, 2 negara bahkan."
Lalu, setelah ia menjelaskan panjang lebar, ditutupnya dengan kalimat...
"So, jika kamu bertanya, untuk apa kita menikah? jawabannya... untuk BAHAGIA."
Sabtu, 24 September 2016
Bayarlah Parkir dengan ikhlas
Aku dan temanku berkendara menuju swalayan di dekat kampus. Aku yang memboncengnya. Sesampainya di depan swalayan, aku celingukan mencari halaman yang kira-kira tidak perlu membayar parkir. Temanku itu ternyata membaca gelagatku.
"Takut bayar parkir ya?" tebaknya.
Aku nyegir.
"Uang parkir itu barangkali satu-satunya sumber penghidupannya loh! Membayar parkir, berarti membantunya menyambung hidup. Jangan pelit donk!" katanya dengan lembut.
Aku luluh.
"Takut bayar parkir ya?" tebaknya.
Aku nyegir.
"Uang parkir itu barangkali satu-satunya sumber penghidupannya loh! Membayar parkir, berarti membantunya menyambung hidup. Jangan pelit donk!" katanya dengan lembut.
Aku luluh.
Langganan:
Postingan (Atom)

