Kamis, 14 April 2016

Mengitari Bahaya, bukan Menentang Bahaya

Tentang bahaya yang sedang menghadang di depan sana, seseorang menasehatiku hal ini;

"Kita sedang diuji, jalan kita yang semula lurus, sekarang terhalang dengan bahaya. Kita tidak harus memaksa diri berjalan lurus. Kita bisa berbelok, mengitari bahaya tersebut. Dan setelah kita bertemu lagi dengan jalan lurus tadi, kita bisa melanjutkan perjalan lagi. Aman dan tidak beresiko kan? Kita hanya perlu ikhlas untuk merasa capek sedikit."

Rabu, 13 April 2016

Hanya ingin hafal juz 30

Aku : "Kamu nggak pengen hafal Al-Quran?"
Dia : "Ya pengen banget lah!"
Aku : "Kok nggak berusaha menghafalnya?"
Dia : "Kamu tahu darimana aku nggak menghafalnya?"
Aku : (Terdiam)
Dia : "Aku nggak muluk-muluk sih. Sebenarnya aku hanya pengen hafal juz 30 aja."
Aku : "Kenapa begitu?"
Dia : "Supaya menjaganya lebih mudah. Sedikit, tapi bisa ku ulang saban hari dalam sholat-sholatku."
Aku : (Terdiam lagi)

Selasa, 12 April 2016

Ingin semakin kenal dengan Allah

Di sebuah mushola, seorang junior bertanya kepada seniornya yang duduk di sebelahnya. Junior tersebut sudah beberapa menit menunggu seniornya selesai dari tunduk-takzimnya. Ntah sedang berdoa atau sedang berzikir. Ntah sedang keduanya...
Junior : "Bang, abang ngafal quran ya?"
Senior : "Nggak Dek. Masih sangat sedikit hafalan Abang."
Junior : "Terus? Abang ada ngafal yang lain gitu nggak?"
Senior : "Nggak ada kok. Emangnya kenapa?"
Junior : "Kok Abang bisa terlihat begitu tenang? Betah banget duduk-tertunduk kayak tadi."
Senior : "Mungkin karena apa yang Abang lakukan ini sudah menyatu dengan diri Abang, Dek."
Junior : "Memangnya apa yang Abang lakukan?"
Senior : "Ntahlah, ini hal spesial atau tidak bagi Adek. Setiap selesai sholat, Abang selalu duduk merenung seperti tadi sambil memikirkan tentang kemahaan Allah. Abang ingin semakin KENAL dengan-Nya Dek. Itu saja."
Junior : (Terdiam). Barangkali zikirku memang banyak, tapi tandus.

Senin, 11 April 2016

Kita sudah dicontohkan tentang Doa Spesifik

Aku : "Menurutmu, kalau kita menyebut nama seseorang untuk menjadi jodoh kita dalam doa, apakah itu artinya kita sedang MENDIKTE Allah?"
Dia : "Tidak. Karena aku pun melakukannya. Itu adalah jenis doa yang Spesifik. Dan aku percaya bahwa Allah justru menyukainya."
Aku : "Sungguh?"
Dia : "Bahkan Dia sudah mencontohkan. Salah satu contoh doa spesifik yang semua orang tahu adalah; Allahumma sholli 'alaa muhammad wa 'alaa ali muhammad. Kama barakta 'alaa ibrohim wa 'alaa ali ibrohim... dan seterusnya. Bahkan di dalam doa iftitah, sampai dijelaskan pula kriterianya. Yang musrik seperti apa dan yang muslim seperti apa. Kurang spesifik apa coba? Termasuk untuk urusan jodoh. Dulu aku mendoakan seseorang juga, tapi nyatanya Allah tidak mengabulkannya dan malah menghadirkan orang lain yang jauh lebih baik."
Aku : "Intinya, jangan takut dan jangan meragukan Allah dalam berdoa ya?"
Dia : "Exactly! Kalau kamu masih takut mendikte Allah, artinya kamu belum sepenuhnya percaya bahwa ia Maha di atas segala maha."

Minggu, 10 April 2016

Berurusan dengan manusia itu rumit

Aku geram sekali melihat temanku dijelek-jelekkan oleh seseorang via medsos. Saking geramnya, aku sampai mendorongnya untuk membalas ejekan tersebut. Tapi apa yang dikatakan oleh temanku ini benar-benar menakjubkan...

"Sakit ini biar saja aku yang tahu. Tak mengapa orang lain menyakitiku asal aku jangan sampai menyakiti orang lain. Lukaku ini bisa ku sembuhkan sendiri, tapi luka orang tersebut, siapa yang bisa menjamin kapan sembuhnya?"

Aku heran padanya. Kenapa pula dia sebegitu peduli dengan perasaan orang lain? Akhirnya, sesuatu yang lebih indah ke luar dari mulutnya; "Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang MERUGI; Harus menebus dosa akibat sakit hati orang lain dengan ibadahku yang tak banyak ini. Berurusan dengan manusia itu sangat rumit!"

Sabtu, 09 April 2016

Doa adalah Katalisator


Dia  : “Percayakah kamu bahwa JODOH itu sudah ditentukan kehadirannya?”
Aku : “Percaya!”
Dia  : “Dan percayakah kamu bahwa DOA adalah KATALISATOR yang mampu MEMPERCEPAT kehadirannya?”
Aku : “Percaya!”
Dia  : “Kalau begitu, mari kita percepat dengan memperbanyak BERDOA.”

Jumat, 08 April 2016

Doa Prioritas

Sahabatku bercerita padaku tentang betapa dekat dan manjanya ia kepada Tuhan ketika berdoa. Ia percaya bahwa doa adalah momen terspesial antara hamba dan Tuhannya. Ia tak pernah melewatkan setiap momen berdoa dengan doa yang asal-asalan. Kali ini ia bercerita tentang Doa Prioritasnya di tahun ini.

"Tahun lalu, Doa Prioritasku adalah memohon kemudahan SKRIPSI sedangkan tahun ini adalah memohon kedatangan JODOH."

Aku tertegun. Sebab baru beberapa bulan yang lalu ia baru bercerita bahwa ia ingin S2. Ntah apa yang membuatnya tiba-tiba ingin MENIKAH muda. Ia hanya menjawab; "Apa lagi yang harus kita segerakan di dunia ini selain IBADAH?"