Senin, 29 Februari 2016

Berebut ibu yang Tua Renta

Ini adalah cerita tentang PERSIDANGAN yang sangat aneh dan baru ku dengar seumur hidupku.  Seseorang telah menceritakannya kepadaku dengan maksud agar aku mengambil pelajaran dari kisah tersebut. Jadi, begini ceritanya. Ada 2 orang Kakak beradik yang mengajukan sebuah kasus ke pengadilan bahkan karena tidak cukup puas dengan keputusan pengadilan, mereka sampai mengajukan banding. Dan... tahukah kamu, apa yang sebenarnya sedang mereka perebutkan? Bukan kekayaan dan bukan pula harta warisan. Tapi rebutan untuk mengurus Ibu mereka yang sudah tua renta. Ketika pengadilan memutuskan bahwa sang adiklah yang berhak mengasuh ibunya, sang kakak bukan main kecewa. Karena ia menganggap ibunya adalah harta termahalnya di dunia, juga tiketnya ke syurga. Aku sampai tercengang mendengar tuturan tersebut. "Bagaimana sang Ibu membesarkan mereka sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang penuh cinta seperti itu?"

Minggu, 28 Februari 2016

Keluarkan energi ter-positif-mu

Aku menyaksikan sendiri bagaimana sumringahnya wajah Rizka 
ketika ke luar dari ruang interview. Ia juga merupakan satu-satunya peserta  yang dihadiahi buku oleh pak Rektor. Siapa dia sebenarnya? Aku berpindah duduk ke sebelahnya untuk berguru padanya. Bagaimana caranya ia begitu mudah melewati proses interview ini? Padahal aku hampir gagal tadi. Dan... tahukah kamu, apa yang dinasehatkannya padaku?

"Elll... ketika kita akan presentasi, seleksi atau interview dalam konteks apapun, coba keluarkan ENERGI yang paling POSITIF dari dirimu. Percayalah El, semesta pun akan ikut positif kepadamu. Selebihnya, biarkan keajaibanNya yang mengambil alih."

Aku terkagum-kagum dibuatnya.
"Ketika tadi aku mendengar teman-teman yang lain bercerita tentang seramnya para interviewer dan sulitnya pertanyaannya, aku tidak ambil pusing. Ketika aku masuk ke dalam ruangan, senyum ter-tuluslah yang pertama kali ku berikan. Dan.... alhamdulillah, segala sesuatunya jadi AJAIB! Bukan hanya mendapat buku, aku pun dipersilahkan foto bersama dengan pak Rektor dan interviwerku. Luar biasa kan, El?"

Sabtu, 27 Februari 2016

Jangan Menghilang untuk Dicari

Ini malam Sabtu. Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Sita. Malam ini kami bertemu di sebuah rumah makan untuk dinner bersama. Aku sejak tadi mendominasi pembicaraan karena banyak sekali cerita yang ingin ku bagikan kepadanya. Sita terus saja menyimak curhatku sambil mengunyah makanannya dengan nikmat.
Aku : "Ta... aku jadi berfikir untuk men-delete kontaknya dari BBMku. Aku pengen lihat, apakah dia berusaha meng-invite-ku lagi atau tidak? Apakah dia akan merasa kehilangan atau biasa aja? Kalau ternyata dia biasa aja, yaa... aku benar-benar akan melanjutkan jarak itu."
Sita : "No! Jangan MENGHILANG karena ingin DICARI, El!"
Demikian saja jawaban Sita padaku. Singkat dan begitu Menyentak.

Jumat, 26 Februari 2016

Aku belum tentu lebih baik daripada dia

Namanya Rina dan Rahma. Aku sedang duduk di samping mereka.
Tak sengaja, aku mendengar obrolan mereka yang ternyata membuatku sadar bahwa aku harus banyak belajar lagi.
Rina : "...Aku tahu sebenarnya dia berbohong kepada orang tuanya. Tapi, waktu itu aku diam aja. Jadi saksi bisu."
Rahma : "Kamu nggak mengingatkan dia? Yaa... supaya dia nggak mengulanginya lagi."
Rina : "Enggak. Heheee. Nggak kefikiran. Lagian, aku juga belum tentu lebih baik daripada dia. Aku hanya nggak mau jadi orang sok SUCI, Riiin. Padahal, dosaku pun menggunung."
Rahma : "Hati-hati dengan kalimat; 'Aku belum tentu lebih baik daripada dia'. Seolah-olah, kamu nggak punya STANDAR BENAR-SALAH dalam hidup. Kamu kan tahu kalau berbohong itu perbuatan tercela. Lalu, kenapa masih ragu menasehatkannya? Kamu nggak harus menunggu jadi orang alim baru bisa menasehatkan kebaikan kepada orang lain, Riiin. Mulailah dari hal terkecil yang kamu tahu."

Kamis, 25 Februari 2016

Sempurnakanlah ibadah Ritual dengan ibadah Sosial

Hari ini aku mendapat pencerahan dari seorang dosen senior di kampusku...
"Nak... sempurnakanlah ibadah Ritual dengan ibadah Sosial. Ibadah sosial ini yang sering kali terlupakan oleh kita. Padahal, menyingkirkan duri di jalan, membuang sampah pada tempatnya, membahagiakan orang lain, menghibur hatinya, melunasi hutang-hutangnya, membantu kesulitan-kesulitannya juga adalah KEBAJIKAN. Jadi Nak, sebenarnya masuk syurga itu sama halnya seperti meraih cita-cita di dunia; Banyak cara dan jalannya. Kita pun tidak dianjurkan untuk bermenung pada satu kegagalan, bukan? Maka, coba lakukanlah banyak kebaikan yang telah dicontohkan Rosulullah."

Rabu, 24 Februari 2016

Jangan menunggu diingatkan terus. Ini kan hal kecil!

Di penghujung seminar, seluruh peserta mendapat teguran yang sangat evaluatif dari ketua penyelenggara...

"Saya pehatikan sejak kemarin... kok hanya sedikit ya di antara anda yang berinisiatif membuang sampah ke tempat yang telah disediakan? Jujur, saya kecewa! Kalian tidak diminta untuk turun ke lantai bawah kok untuk membuang langsung sampah itu ke bak sampah. Sejak kemarin, saya hanya memperhatikan saja dan hari ini saya ingin mengingatkan; 'Mulailah belajar berkomimen dari hal terkecil seperti ini'. Sebelum saya berkata seperti ini, saya sudah terlebih dulu menerapkan ini kepada diri saya. Kalau sampah kalian masing-masing saja tidak mampu kalian urus, bagaimana mungkin kalian muluk-muluk bermimpi menyelesaikan masalah bangsa ini?"

Kami tertunduk, malu.

Selasa, 23 Februari 2016

Tulisan baikmu adalah sedekahmu

Aku pernah sangat menyesal ketika tidak bisa bersedekah sama sekali karena aku tidak uang sepeserpun di kantong. Sahabatku baru saja memberikan beberapa lembar uangnya untuk membantu korban Letusan Gunung di Jawa. Tapi, di luar dugaan sekali, ia justru berkata seperti ini kepadaku...

"El, jangan bersedih gitu. Sedekahkan tidak selalu harus berbentuk uang. Semua kebaikan yang kita lakukan adalah sedekah, El. Justru sebenarnya sedekahmu itu lebih banyak daripada aku. Kamu mau tahu alasanku berkata demikian?"
Aku mengangguk cepat.
"Karena setiap hari kamu selalu MENULIS. Kamu tak pernah khawatir dengan ada atau tidaknya orang yang membaca tulisanmu itu. Karena yang terpenting bagimu adalah BERBAGI. Benar kan, El?"
Aku mengangguk lagi. Lebih cepat dari yang tadi. Dan kali ini diiringi dengan genangan bening di mata.
"Itu adalah sedekahmu El. Sedekah yang kamu biasakan setiap hari. Sedekah yang juga adalah Jariyah."
Aku langsung memeluknya. Berterimakasih atas nasehatnya barusan.